Jumat, 24 Oktober 2014

Just ...


Pagi ini seperti biasa, Rey bangun terlambat, tak ada sesuatu yang mengejarnya. Santai sekali sepertinya. Ini hari apa ya? Tanyanya dalam hati. Dia mengambil ponselnya lalu melihat kalender di sana, 8 oktober 2012, dan ini hari senin. Jika para pekerja sering berkata, “I hate Monday”, tetapi tidak dengan Rey, every day like Sunday. Yah begitulah, semua hari terasa sama. Bahkan di hari yang sibuk seperti ini, hari senin, baginya itu seperti senin rasa minggu. Nikmat bukan? Tapi baginya itu bukan sebuah kenikmatan. Itu artinya belum ada perubahan dalam hidupnya. Rey masih sibuk melepas status penganggurannya.
Tak lama dia merenung, ponselnya berbunyi. Bla..bla..bla.. Intinya itu adalah panggilan untuk mengikuti tes masuk kerja pada sebuah perusahaan anta beranta. Betapa tidak, namanya begitu asing, seperti nama Alien atau nama mahluk angkasa menyeramkan lainnya. Selain itu, Rey harus berputar-putar berkeliling kota seharian hanya untuk mencari dan mengantarkan surat lamaran kerjanya. Setelah ketemu, ternyata kantornya berada di gang yang sempit, di lantai tiga, ruangannya sempit, banyak tumpukan rongsokan, entah itu velg mobil, bemper, ban, dan lain sebagainya. Itu tidak terlihat seperti kantor, itu lebih terlihat seperti gudang. Yah, gudang dan sarang tikus.
Hem.. dari sekian banyaknya lamaran kerja yang ku antar, mengapa harus perusahaan anta beranta ini yang memberiku kesempatan untuk ikut tes masuk ke perusahaannya, gumamnya dalam hati. No other choice, ini patut dicoba. Rey bersiap-siap lalu pergi untuk mengikuti tes masuk kerja perusahaan itu.
Sesampainya di sana, sudah ada dua orang yang sama-sama menunggu untuk mengikuti tes yang sama dengan rey. Mereka mengobrol, sekedarnya, hanya lebih untuk mengisi waktu agar tidak bosan menunggu di ruangan yang hanya terlihat beberapa orang karyawan perusahaan yang sedang bekerja. Mau diisi berapa karyawan lagi? Ruangan itu bahkan sudah terlihat sesak sejak kedatangan para pelamar kerja.
Akhirnya datanglah karyawan yang akan memberikan tes kepada mereka bertiga. Dia menyapa mereka, menjabat tangan mereka dengan gerak tubuh seperti menguasai. Sepertinya dia sangat professional, terlihat dari gayanya. Dengan sedikit bicara untuk membuka tes pagi itu, dia mengeluarkan tiga kotak kecil lalu memberikannya kepada rey dan dua rekannya. Rey dan dua rekannya saling pandang, bingung. Sebelum mereka disibukkan dengan spekulasi tentang isi kotak itu, karyawan itu memerintahkan mereka untuk segera membuka kotak itu. Kebingungan rey dan rekannya makin jadi. Apa ini? Sebuah gulungan benang, bukan sembarang benang tapi benang kusut. Itulah tes kalian hari ini, kata karyawan itu sambil tersenyum. Kalian akan mengurai benang kusut itu menjadi benang yang lurus kembali. Selesaikan! Waktu kalian tak terbatas hingga kantor ini tutup, sekitar pukul lima sore. Jika sudah selesai, kalian boleh pulang. Dan besok, kalian harus kembali lagi ke sini. Akan saya beritahu siapa pemenangnya.
Rey berfikir, mungkin ini tes keuletan, maka dia mencoba mengurai benang kusut itu dengan sabarnya. Detik menit berlalu, sampai akhirnya pukul lima pun tiba. Begitu asyiknya rey mengurai benang itu dia sampai tak sadar jika kedua temannya sudah pulang duluan. Entah menyerah atau mereka sudah selesai mengurainya. Kotak mereka berdua sudah tertutup rapat di atas meja. Sampai detik terakhir pun rey tetap tak mampu mengurai benang itu dan akhirnya dia menyerah. Dia pulang dengan membawa begitu banyak sangkaan buruk, akankah dia yang menjadi pemenang dan diterima bekerja?
Keeseokan harinya mereka kembali ke kantor itu. Di sana sudah menunggu sang karyawan yang telah memberikan tes kepada mereka kemarin. Karyawan itu mempersilahkan mereka duduk. Lalu kemudian mulai bicara. Kami hanya membutuhkan dua orang untuk posisi ini. Rey, saya lihat kamu paling gigih di sini, kata karyawan itu. Jantung rey pun langsung berdegup kencang, dia berfirasat dialah yang akan menjadi salah satu orang yang akan diterima. Kamu tetap mengurai benang sampai detik akhir, meski akhirnya kamu tetap tak bisa mengurainya. Sedangkan dua rekanmu ini, Yan dan Rio, mereka hanya mencoba mengurainya selama tiga puluh menit, tetapi karna mereka tetap tak bisa mengurainya, akhirnya mereka pulang lebih dulu dari pada kamu rey dan meninggalkan benang kusut itu di atas meja. Yan, Rio, selamat! Kamu terpilih. Duaarrr… Telinga rey seperti tersambar petir. Mengapa mereka berdua yang terpilih tanyanya kepada karyawan itu. Sedangkan karyawan itu tau, rey lah yang paling gigih di antara mereka berdua. Itulah kesalahanmu rey, kata karyawan itu. Kami memang mencari orang gigih, tetapi kami lebih mengutamakan orang cerdas dalam penyelesaian sebuah masalah. Jika masalah itu tak mungkin bisa terselesaikan mengapa harus memaksa menyelesaikannya. Sedangkan itu bukan sesuatu yang begitu penting. Kamu harus pandai dalam menentukan prioritas, pandai dalam memilih mana yang sangat penting dan mana yang tidak.  Kamu tau bukan, sejak awal benang itu tak akan pernah bisa terurai, tetapi mengapa kamu masih kekeh untuk mengurainya. Harusnya kamu gunakan otakmu, kamu tak perlu melakukan hal bodoh seperti itu. Menghabiskan waktumu untuk hal yang sia-sia. Itulah sebabnya kamu tak terpilih rey. Kamu harus pintar, harus mampu melihat sesuatu yang terdalam dari yang terdalam. Bukan itu maksud sebenarnya, tetapi inilah maksud sebenarnya, pengujian logika, kata karyawan itu.
Ternyata semua tes itu, kantor itu, itu semua sudah diatur oleh pihak perusahaan. Ternyata kantor itu adalah sebuah perusahaan besar yang memakai kedok keanehan pada setiap seleksi karyawannya. Kantor sebenarnya terletak di pusat kota dengan gedung seratus lantai. Itu adalah salah satu perusahaan teknologi informasi terbesar di Negara rey. Hem.. Patahlah sudah semangat rey.
Rey pulang dengan langkah gontai. Dia mengomel di dalam hatinya. Bagaimana bisa menilai seseorang hanya dengan sekilas saja, melalui sebuah tes yang aneh yang bahkan tidak ada sehari lamanya. Mereka bahkan tidak memperkirakan bagaimana potensi seorang anak manusia lima sampai sepuluh tahun ke depan. Hem… Semuanya begitu sulit dimengerti…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar