Pagi ini seperti biasa, Rey bangun terlambat,
tak ada sesuatu yang mengejarnya. Santai sekali sepertinya. Ini hari apa ya?
Tanyanya dalam hati. Dia mengambil ponselnya lalu melihat kalender di sana, 8
oktober 2012, dan ini hari senin. Jika para pekerja sering berkata, “I hate
Monday”, tetapi tidak dengan Rey, every day like Sunday. Yah begitulah, semua
hari terasa sama. Bahkan di hari yang sibuk seperti ini, hari senin, baginya itu
seperti senin rasa minggu. Nikmat bukan? Tapi baginya itu bukan sebuah kenikmatan.
Itu artinya belum ada perubahan dalam hidupnya. Rey masih sibuk melepas status
penganggurannya.
Tak lama dia merenung, ponselnya berbunyi.
Bla..bla..bla.. Intinya itu adalah panggilan untuk mengikuti tes masuk kerja
pada sebuah perusahaan anta beranta. Betapa tidak, namanya begitu asing,
seperti nama Alien atau nama mahluk angkasa menyeramkan lainnya. Selain itu, Rey
harus berputar-putar berkeliling kota seharian hanya untuk mencari dan
mengantarkan surat lamaran kerjanya. Setelah ketemu, ternyata kantornya berada di
gang yang sempit, di lantai tiga, ruangannya sempit, banyak tumpukan rongsokan,
entah itu velg mobil, bemper, ban, dan lain sebagainya. Itu tidak terlihat
seperti kantor, itu lebih terlihat seperti gudang. Yah, gudang dan sarang
tikus.
Hem.. dari sekian banyaknya lamaran kerja yang
ku antar, mengapa harus perusahaan anta beranta ini yang memberiku kesempatan
untuk ikut tes masuk ke perusahaannya, gumamnya dalam hati. No other choice,
ini patut dicoba. Rey bersiap-siap lalu pergi untuk mengikuti tes masuk kerja
perusahaan itu.
Sesampainya di sana, sudah ada dua orang yang
sama-sama menunggu untuk mengikuti tes yang sama dengan rey. Mereka mengobrol,
sekedarnya, hanya lebih untuk mengisi waktu agar tidak bosan menunggu di
ruangan yang hanya terlihat beberapa orang karyawan perusahaan yang sedang
bekerja. Mau diisi berapa karyawan lagi? Ruangan itu bahkan sudah terlihat
sesak sejak kedatangan para pelamar kerja.
Akhirnya datanglah karyawan yang akan
memberikan tes kepada mereka bertiga. Dia menyapa mereka, menjabat tangan
mereka dengan gerak tubuh seperti menguasai. Sepertinya dia sangat
professional, terlihat dari gayanya. Dengan sedikit bicara untuk membuka tes
pagi itu, dia mengeluarkan tiga kotak kecil lalu memberikannya kepada rey dan
dua rekannya. Rey dan dua rekannya saling pandang, bingung. Sebelum mereka
disibukkan dengan spekulasi tentang isi kotak itu, karyawan itu memerintahkan
mereka untuk segera membuka kotak itu. Kebingungan rey dan rekannya makin jadi.
Apa ini? Sebuah gulungan benang, bukan sembarang benang tapi benang kusut.
Itulah tes kalian hari ini, kata karyawan itu sambil tersenyum. Kalian akan
mengurai benang kusut itu menjadi benang yang lurus kembali. Selesaikan! Waktu
kalian tak terbatas hingga kantor ini tutup, sekitar pukul lima sore. Jika
sudah selesai, kalian boleh pulang. Dan besok, kalian harus kembali lagi ke
sini. Akan saya beritahu siapa pemenangnya.
Rey berfikir, mungkin ini tes keuletan, maka
dia mencoba mengurai benang kusut itu dengan sabarnya. Detik menit berlalu,
sampai akhirnya pukul lima pun tiba. Begitu asyiknya rey mengurai benang itu
dia sampai tak sadar jika kedua temannya sudah pulang duluan. Entah menyerah
atau mereka sudah selesai mengurainya. Kotak mereka berdua sudah tertutup rapat
di atas meja. Sampai detik terakhir pun rey tetap tak mampu mengurai benang itu
dan akhirnya dia menyerah. Dia pulang dengan membawa begitu banyak sangkaan
buruk, akankah dia yang menjadi pemenang dan diterima bekerja?
Keeseokan harinya mereka kembali ke kantor itu.
Di sana sudah menunggu sang karyawan yang telah memberikan tes kepada mereka
kemarin. Karyawan itu mempersilahkan mereka duduk. Lalu kemudian mulai bicara. Kami
hanya membutuhkan dua orang untuk posisi ini. Rey, saya lihat kamu paling gigih
di sini, kata karyawan itu. Jantung rey pun langsung berdegup kencang, dia
berfirasat dialah yang akan menjadi salah satu orang yang akan diterima. Kamu
tetap mengurai benang sampai detik akhir, meski akhirnya kamu tetap tak bisa
mengurainya. Sedangkan dua rekanmu ini, Yan dan Rio, mereka hanya mencoba
mengurainya selama tiga puluh menit, tetapi karna mereka tetap tak bisa
mengurainya, akhirnya mereka pulang lebih dulu dari pada kamu rey dan
meninggalkan benang kusut itu di atas meja. Yan, Rio, selamat! Kamu terpilih. Duaarrr…
Telinga rey seperti tersambar petir. Mengapa mereka berdua yang terpilih
tanyanya kepada karyawan itu. Sedangkan karyawan itu tau, rey lah yang paling
gigih di antara mereka berdua. Itulah kesalahanmu rey, kata karyawan itu. Kami
memang mencari orang gigih, tetapi kami lebih mengutamakan orang cerdas dalam
penyelesaian sebuah masalah. Jika masalah itu tak mungkin bisa terselesaikan
mengapa harus memaksa menyelesaikannya. Sedangkan itu bukan sesuatu yang begitu
penting. Kamu harus pandai dalam menentukan prioritas, pandai dalam memilih
mana yang sangat penting dan mana yang tidak. Kamu tau bukan, sejak awal benang itu tak akan
pernah bisa terurai, tetapi mengapa kamu masih kekeh untuk mengurainya.
Harusnya kamu gunakan otakmu, kamu tak perlu melakukan hal bodoh seperti itu.
Menghabiskan waktumu untuk hal yang sia-sia. Itulah sebabnya kamu tak terpilih
rey. Kamu harus pintar, harus mampu melihat sesuatu yang terdalam dari yang
terdalam. Bukan itu maksud sebenarnya, tetapi inilah maksud sebenarnya, pengujian
logika, kata karyawan itu.
Ternyata semua tes itu, kantor itu, itu semua
sudah diatur oleh pihak perusahaan. Ternyata kantor itu adalah sebuah
perusahaan besar yang memakai kedok keanehan pada setiap seleksi karyawannya. Kantor
sebenarnya terletak di pusat kota dengan gedung seratus lantai. Itu adalah
salah satu perusahaan teknologi informasi terbesar di Negara rey. Hem..
Patahlah sudah semangat rey.
Rey pulang dengan langkah gontai. Dia mengomel
di dalam hatinya. Bagaimana bisa menilai seseorang hanya dengan sekilas saja,
melalui sebuah tes yang aneh yang bahkan tidak ada sehari lamanya. Mereka
bahkan tidak memperkirakan bagaimana potensi seorang anak manusia lima sampai
sepuluh tahun ke depan. Hem… Semuanya begitu sulit dimengerti…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar